Minggu, 01 November 2015

IMANKU MENDAMAIKAN DUNIA

Iman (bahasa Arab : الإيمان) secara etimologis berarti 'percaya'.
Perkataan iman yang berarti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Qur'an, di antaranya dalam Surat At-Taubah ayat 62 yang bermaksud: "Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman." Iman itu ditujukan kepada Allah , kitab kitab dan Rasul. Iman itu ada dua Iman Hak dan Iman Batil.
Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.
Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib : "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota." Aisyah r.a. berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota." Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."
 Dalam semua agama pasti tidak ingin jika umatnya tidak berdamai dengan umat yang lainnya. tetapi pada kenyataannya banyak sekali orang-orang yang mengatasnamakan agama untuk saling membunuh satu sama lain. ini tentu tidak baik sekaligus perbuatan yang tercela. kejadian yang terjadi di masyarakat ini tergantung dari masyarakat itu sendiri apakah ingin berdamai dengan yang lainnya atau malah sebaliknya.kita berdamai di dunia ini agar kehidupan yang kita jalani dapat berjalan dengan lancar, dengan rukun, damai tidak ada perpecahan yang membuat kehidupan yang dijalani menjadi tenang dan tentram.
Setiap muslim wajib berusaha membangun kukuhnya persatuan dan kesatuan demi tegaknya agama, masyarakat, bangsa dan negara. Hal itu dilakukan agar dapat meningkatkan kesejahteraan bersama dengan cara yang bijaksana dan seadil-adilnya menurut ketentuan Allah SWT. Agama islan adalah agama yang smepurna ajaran-ajarannya, bukan hanya membimnbing manusia mengenal tuhan dan tata cara beribadah kepadanya, tetapi juga memberi petunjuk bagaimana menyusun suatu masyarakat agar tiap-tiap anggotanya dapat hidup rukun, aman dan nyaman, yakni masing-masing hendakalah bertakwa. Allah melarang kita saling membelakangi, suka mencari kesalahan orang lain, hasud, iri dan dengki lebih-lebih berbuat aniaya yang dapat menimbulkan perselisihan diantara sesama.
Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan sebuah hadis yang artinya : “Tolonglah saudaramu dalam keadaan menganiaya atau dianiaya. Saya bertanya. Wahai Rasululah, yang ini saya menolongnya karena teraniaya. Bagaimana caranya menolong yang zalim?, Engkau harus melarangnya dari kezaliman itulah cara menolongnya.” (HR Anas r.a)
Hadis tersebut memberi penjelasan bahwa menjaga persatuan dan kesatuan itu mutlak diperlukan. Terjadinya perbedaan pendapat, baik perorangan maupun kelompok adalah hal yang wajar, karena setiap pribadi memang dianugrahi oelh Allah kemampuan berkreasi dan penalaran yang berbeda-beda. Lebih-lebih para anak muda yang sedang mencari jati dirinya, persaingan anatar individu atau kelompok sulit dihindari sehingga tidak jarang berakhir dengan baku hantam. Dengan kondisi yang demikian, hendaklah segera dibentuk juru damai, baik dari guru maupun pemuka masyarakat agar masalah yang timbul tidak berlarut-larut. Perlu disadari bahwa mereka yang terlibat perselisihan pada umumnya adalah teman kita sendiri, masih sebangsa dan sering pula malah seiman. Maka penyelesaian dengan jalan kekerasan, jelas hanya akan merugikan diri dan bangsa kita sendiri.


Hikmah yang terkandung didalam islah (perdamaian)
  1. Akan mengembalikan kerukunan antara dua pihak yang semula bersengketa
  1. Tercabutnya akar permusuhan dan perselisihan dari pihak-pihak yang bersengketa, berganti dengan tumbuh suburnya tali ukhuwah (persaudaraan)
  1. Menghindarkan terjadinya pertumpahan darah
  1. Menghemat angaran belanja
  1. Menjauhkan kedua belah pihak dari pengingkaran terhadap kebenaran
  1. Menjauhkan rasa permusuhan dan dendam diantara sesama manusia
  1. Menyalurkan pikiran-pikiran positif dari kedua pihak kearah usaha-usaha yang bermanfaat bagi masing-masing pihak maupun manusia secara keseluruhan.
  1. Mendekatkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
Berangkat dari kenyataan ini maka mengajak kita untuk sadar untuk menerima keyakinan orang lain sebagai dinamika religius. Karena pengalaman jiwa terkait dengan kondisi tempat masing-masing kelompok atau individu. “Kita harus jujur dalam memahami fakta bahwa kita tinggal dalam sistem-sistem parsial, dan bahwa dalam kehidupan spiritual bagian-bagian ini tidak dapat saling dipertukarkan.
Jika demikian maka konflik atas nama agama sesungguhnya telah menciderai keunikan jiwa manusia. Kita hidup dengan pengalaman masing-masing sehingga kekerasan agama yang terjadi adalah sebuah bentuk ketidakpahaman orang akan makna religiusitas dan pengabaian terhadap sikap terbaik yaitu penoleransian atas perbedaan
Problematika ini konflik atas dasar agama ini menjadi dilematis ketika agama merupakan bagian dari takdir dan konstruk sosial masyarakat. Bukankah sebagian besar orang beragama karena faktor keluarga dan lingkungannya? Ketika manusia tidak mengerti kenapa dia hadir di dunia dengan bentuk fisik sedemikian rupa, terikat dalam konstruk sosial dan budaya yang mesti dia patuhi, dan keharusan untuk mempertahankan hidup dari penderitaan, maka agama sebagai hal metafisik menjadi hal menarik bagi manusia
Tidak hanya karena konstruk sosial, agama kemudian menjadi batu sandaran bagi manusia atas ketakutannya akan gelapnya masa depan. Agama memberikan jawaban atas kegelisahan manusia yang semakin menjadi-jadi disebabkan ia tidak pernah tahu bagaimanakah nasib yang akan mendatangi di masa depan. Pertanyaan akan keberadaan dirinya membuat manusia terus secara kreatif mengembangkan potensi yang dia miliki demi pencapaian eksistensi diri

Oleh : Juwita Rizky Palupi 15.0477)
Dosen pembimbing : Gregorius daru W .